/
oleh Rhenald Khasali

SekolahMurabbi.com - Seorang mahasiswi mengeluh. Dari SD hingga lulus S-1, ia selalu juara. Namun kini, di program S-2, ia begitu kesulitan menghadapi dosennya yang menyepelekannya. Judul tesisnya selalu ditolak tanpa alasan yang jelas. Kalau jadwal bertemu dibatalkan sepihak oleh dosen, ia sulit menerimanya.

Sementara itu, teman-temannya, yang cepat selesai, jago mencari celah. Ia menduga, teman-temannya yang tak sepintar dirinya itu "ada main" dengan dosen-dosennya. "Karena mereka tak sepintar aku," ujarnya.

Banyak orangtua yang belum menyadari, di balik nilai-nilai tinggi yang dicapai anak-anaknya semasa sekolah, mereka menyandang persoalan besar: kesombongan dan ketidakmampuan menghadapi kesulitan. Bila hal ini saja tak bisa diatasi, maka masa depan ekonominya pun akan sulit.

Mungkin inilah yang perlu dilakukan orangtua dan kaum muda: belajar menghadapi realitas dunia orang dewasa, yaitu kesulitan dan rintangan.

Hadiah Orangtua
Psikolog Stanford University, Carol Dweck, yang menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, menulis, "Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan".

Ya, tantangan. Apakah itu kesulitan-kesulitan hidup, rasa frustrasi dalam memecahkan masalah, sampai kegagalan "membuka pintu", jatuh bangun di usia muda. Ini berbeda dengan pandangan banyak orangtua yang cepat-cepat ingin mengambil masalah yang dihadapi anak-anaknya.

Kesulitan belajar mereka biasanya kita atasi dengan mendatangkan guru-guru les, atau bahkan menyuap sekolah dan guru-gurunya. Bahkan, tak sedikit pejabat mengambil alih tanggung jawab anak-anaknya ketika menghadapi proses hukum karena kelalaian mereka di jalan raya. Kesalahan mereka membuat kita resah. Masalah mereka adalah masalah kita, bukan milik mereka.

Termasuk di dalamnya adalah rasa bangga orangtua yang berlebihan ketika anak-anaknya mengalami kemudahan dalam belajar dibandingkan rekan-rekannya di sekolah.

Berkebalikan dengan pujian yang dibangga-banggakan, Dweck malah menganjurkan orangtua untuk mengucapkan kalimat seperti ini: "Maafkan Ibu telah membuat segala sesuatu terlalu gampang untukmu, Nak. Soal ini kurang menarik. Bagaimana kalau kita coba yang lebih menantang?"

Jadi, dari kecil, saran Dweck, anak-anak harus dibiasakan dibesarkan dalam alam yang menantang, bukan asal gampang atau digampangkan. Pujian boleh untuk menyemangati, bukan membuatnya selalu mudah.

Saya teringat masa-masa muda dan kanak-kanak saya yang hampir setiap saat menghadapi kesulitan dan tantangan. Kata reporter sebuah majalah, saya ini termasuk "bengal". Namun ibu saya bilang, saya kreatif. Kakak-kakak saya bilang saya bandel. Namun, otak saya bilang "selalu ada jalan keluar dari setiap kesulitan".

Begitu memasuki dunia dewasa, seorang anak akan melihat dunia yang jauh berbeda dengan masa kanak-kanak. Dunia orang dewasa, sejatinya, banyak keanehannya, tipu-tipunya. Hal gampang bisa dibuat menjadi sulit. Namun, otak saya selalu ingin membalikkannya.

Demikianlah, hal-hal sepele sering dibuat orang menjadi masalah besar. Banyak ilmuwan pintar, tetapi reaktif dan cepat tersinggung. Demikian pula kalau orang sudah senang, apa pun yang kita inginkan selalu bisa diberikan.

Panggung Orang Dewasa
Dunia orang dewasa itu adalah sebuah panggung besar dengan unfair treatment yang menyakitkan bagi mereka yang dibesarkan dalam kemudahan dan alam yang protektif.

Kemudahan-kemudahan yang didapat pada usia muda akan hilang begitu seseorang tamat SMU. Di dunia kerja, keadaan yang lebih menyakitkan akan mungkin lebih banyak lagi ditemui.

Fakta-fakta akan sangat mudah Anda temui bahwa tak semua orang, yang secara akademis hebat, mampu menjadi pejabat atau CEO. Jawabannya hanya satu: hidup seperti ini sungguh menantang.

Tantangan-tantangan itu tak boleh membuat seseorang cepat menyerah atau secara defensif menyatakan para pemenang itu "bodoh", tidak logis, tidak mengerti, dan lain sebagainya.

Berkata bahwa hanya kitalah orang yang pintar, yang paling mengerti, hanya akan menunjukkan ketidakberdayaan belaka. Dan pernyataan ini hanya keluar dari orang pintar yang miskin perspektif, dan kurang menghadapi ujian yang sesungguhnya.

Dalam banyak kesempatan, kita menyaksikan banyak orang-orang pintar menjadi tampak bodoh karena ia memang bodoh mengelola kesulitan. Ia hanya pandai berkelit atau ngoceh-ngoceh di belakang panggung, bersungut-sungut karena kini tak ada lagi orang dewasa yang mengambil alih kesulitan yang ia hadapi.

Di Universitas Indonesia, saya membentuk mahasiswa-mahasiswa saya agar berani menghadapi tantangan dengan cara satu orang pergi ke satu negara tanpa ditemani satu orang pun agar berani menghadapi kesulitan, kesasar, ketinggalan pesawat, atau kehabisan uang.

Namun lagi-lagi orangtua sering mengintervensi mereka dengan mencarikan travel agent, memberikan paket tur, uang jajan dalam jumlah besar, menitipkan perjalanan pada teman di luar negeri, menyediakan penginapan yang aman, dan lain sebagainya. Padahal, anak-anak itu hanya butuh satu kesempatan: bagaimana menghadapi kesulitan dengan caranya sendiri.

Hidup yang indah adalah hidup dalam alam sebenarnya, yaitu alam yang penuh tantangan. Dan inilah esensi perekonomian abad ke-21: bergejolak, ketidakpastian, dan membuat manusia menghadapi ambiguitas. Namun dalam kondisi seperti itulah sesungguhnya manusia berpikir. Dan ketika kita berpikir, tampaklah pintu-pintu baru terbuka, saat pintu-pintu hafalan kita tertutup. Jadi inilah yang mengakibatkan banyak sekali orang pintar sulit dalam menghadapi kesulitan.

Maka dari itu, pesan Carol Dweck, dari apa yang saya renungi, sebenarnya sederhana saja: Orangtua, jangan cepat-cepat merampas kesulitan yang dihadapi anak-anakmu. Sebaliknya, berilah mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan.

Jauhkan Anakmu Dari Kemudahan

oleh Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle



SekolahMurabbi.com - Anies Baswedan terlambat 10 menit, dari waktu jam 15.30 pada 5 Desember 2017, yang dia janjikan bertemu rombongan Alumni ITB yang membawa aspirasi ribuan alumninya menolak reklamasi teluk Jakarta. Dia masuk tergesa-gesa ke ruangan pertemuan, langsung menyalami tamunya, sambil meminta maaf telah terlambat dan memberi alasan bahwa dia baru sampai dari sebuah kunjungan di luar kantor.

Selesai menyalami semua tamu, dia tidak langsung duduk, namun meminta ijin pada tamunya untuk beberapa menit Salat Ashar dulu. Baru saja sang tamu merespon ok, dia bertanya kembali apakah para tamu sudah Ashar? Tentu saja para tamu belum Ashar, karena jam Ashar baru saja tiba dan ekspektasi pertemuan 30 menit atau 1 jam, masih menyisakan banyak waktu untuk Salat setelah pertemuan. Namun, Anies mengajak para tamunya untuk Salat Ashar dulu sebelum pertemuan dimulai.

Permohonan maaf Anies atas keterlambatannya 10 menit dan meminta ijin Salat Ashar dulu, plus ajakan bersalat untuk tamunya menunjukkan tipe kepemimpinan sosok Anies yang 180 derajat berbeda dari kebanyakan elit elit di Indonesia.

Pertama, soal menghargai waktu. Orang  Belanda mengatakannya Op Tijd. Ini cuma sekedar contoh, tentu negara maju lainnya mirip. Belanda sangat terkenal dengan skedul atau janji pertemuan. Jangan heran suatu waktu di tahun 90 an ketika ada kunjungan pemerintah Indonesia ke Belanda, pejabat kita heran lihat menteri mereka naik sepeda mengejar waktu untuk menghindari kemacetan ber mobil di Denhaag, mengejar skedul meeting. Op Tijd. Tepat waktu.

Menghargai waktu adalah problem besar bangsa kita. Mutia Hatta, 2015,  dalam kenangan 70 tahun antropolog Prof Koentjoroningrat, mempersoalkan rendahnya disiplin waktu bangsa kita. Kita mengenalnya "Jam Karet". Jam karet adalah kita boleh berjanji dan kemudian sesukanya membatalkan/tidak menepati, atau berjanji kemudian membiarkan tamu menunggu, atau bertemu orang seenaknya tanpa menghargai padatnya skedul/agenda orang yang ingin ditemuinya (spontanitas).

Allah sendiri, dalam Islam , misalnya, telah menggariskan dalam firmannya bahwa orang2 yang mensia-siakan waktu akan merugi. Di barat sendiri dikenal istilah "time is money". Lalu bagaimana budaya buruk "jam karet" ini bisa kita hilangkan?

Merubah budaya buruk ini adalah tugas berat semua orang. Namun, contoh seorang pemimpin, seperti Anies, yang menghargai waktu, perlu menjadi  inspirasi.

Kedua, Anies meminta waktu sebentar untuk salat. Dan mempengaruhi tamunya juga untuk salat. Ini adalah teladan yang dahsyat dan sulit ditemui saat ini.

Banyak elit-elit pemimpin Islam yang tidak mementingkan waktu salat, apalagi memikirkan salat tamunya. Karena, Salat biasanya merupakan tanggung jawab masing masing kepada Tuhannya. Begitulah adab sekuler saat ini.

Namun, bagi Anies menunjukkan dia harus salat tepat waktu dihadapan tamunya, seperti sebuah dakwah. Apalagi bisa mempengaruhi tamunya juga untuk hal yang sama. (Ingat anak ITB itu mungkin ada 25 % lebih percaya Einstein lebih hebat dari Tuhan)

Salat merupakan kewajiban bagi ummat Islam yang mayoritas di republik ini. Di Jakarta yang serba macet dan materialistik untuk mencari waktu dan ruang Salat dalam suasana bisnis atau sibuk bekerja, menjadi terasa susah. Salat Ashar biasanya sudah biasa dilakukan dekat dekat azan Maghrib. Cari tempat salat di perkantoran atau mall biasanya dapat sisa ruangan gudang atau tempat parkir.

Mengapa demikian? Mayoritas hal ini terjadi karena pemimpin-pemimpin negeri ini kurang menghargai mulianya Salat. Dalam hal ruang ruang publik, khususnya swasta, karena ruang publik tersebut dikontrol orang-orang yang tidak memikirkan Salat. Tentu beberapa tempat, seperti mal mal elit di Jakarta, sudah mulai membangun musholla yang luxorius, memanjakan konsumen muslim. Namun ini sesuatu yang terbatas keberadaannya. Sebuah terobosan besar dari Gubernur Anies adalah memberikan ruang salat pada setiap halte bus Transjakarta. Sebuah perubahan besar.

Dengan cintanya Anies terhadap salat, tentu kita berharap sebuah gerakan besar cinta Tuhan akan terjadi di Jakarta. Sebagaimana dalam agama Islam, Salat disebutkan sebagai tiang agama, maka dapat diharapkan gerakan Salat nya Anies akan mengurangi jumlah aparatur negara yang selama ini banyak terjebak budaya dalam dualitas konyol, habis korupsi langsung salat. Atau ikut zikir dan sumbang Masjid sambil makan uang korup.

Op Tijd dan Cinta Salat tampaknya menjadi ikon leadership Anies Baswedan. Ini sebuah awal revolusi mental. Semoga tidak mental-mentul (terpental-pental) seiring waktu.

Bravo Anies Baswedan!

Op Tijd, Ashar dan Leadership Anies Baswedan


SekolahMurabbi.com - Tahukah Anda?
Di saat kita bersin, seluruh anggota tubuh kita terhenti berfungsi, seolah-olah kita mati, Ini terjadi dalam hitungan yang sgt pantas. Setelah itu baru berfungsi spt semula. Inilah kenapa dalam Islam disunnahkan kita membaca "Alhamdulillah" setelah bersin sebagai ungkapan kesyukuran atas berfungsinya kembali seluruh anggota badan kita.

Tahukah Anda?
Menguap itu bukan tanda bahwa kita mengantuk, tapi itu adalah pertanda bahwa tubuh kita perlu tambahan oksigen.

Tahukah Anda?
Memakan buah kurma dalam jumlah yang genap itu akan menghasilkan gula dalam darah. Karena itu Rasulullah SAW telah menganjurkan kita untuk makan kurma dalam jumlah ganjil, agar hanya berubah menjadi karbohidrat.

Tahukah Anda?
Bahwa tepat setelah dikumandangkan azan, itu adalah waktu yang paling mustajab untuk berdoa.

Tahukah Anda?
Di mana dosa-dosa kita diletakkan ketika kita sedang salat?
Nabi Muhammad SAW bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba ketika menunaikan salat, dia akan membawa bersama semua dosa-dosanya. Kemudian dosa-dosa itu diletakkan di atas kepala dan kedua pundaknya. Maka ketika ia ruku' atau sujud, berjatuhanlah dosa-dosa tersebut.”
Wahai orang-orang yang biasa tergesa-gesa dalam salatnya, tenanglah dan tahanlah agar lebih lama sedikit ketika sedang ruku' dan sujud agar lebih banyak dosa-dosa kita yang berguguran..

Tahukah Anda?
Diceritakan ada seorang wanita salihah yang meninggal dunia. Maka tiap kali penduduk desa menziarah kuburnya, mereka tercium harumnya mawar dari dalam kubur tersebut. Kemudian suaminya menjelaskan bahwa isterinya ketika masih hidup selalu membaca surah Al-Mulk terutama setiap kali sebelum tidur.. Sesungguhnya surat Al-Mulk itu menyelamatkan kita semua dari siksa kubur.

Tahukah Anda?
Ketika kita membaca ayat Kursi setelah kita selesai salat, maka tiada halangan antara kita dengan surga kecuali kematian.

Tahukah Anda?
Bahwa para malaikat mendoakan kita selepas selesai salat, Maka janganlah kita terburu-buru untuk beranjak dari tempat duduk.

Boleh di-share biar lebih bermanfaat buat orang banyak. Rasulullah S.A.W bersabda, “Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya, maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)
(Sumber: Grup WhatsApp)

Kumpulan Fakta yang Terlihat Sepele Tapi Menakjubkan



SekolahMurabbi.com - Presiden AS, Donald Trump, benar-benar mewujudkan niatnya memindahkan kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerusalem. Melalu UU “Jerussalem Embassy Act”, Trump merusak upaya perdamaian Palestina-Israel dengan keputusan kontroversialnya itu.

Erdogan, presiden Turki, langsung bereaksi dengan mengatakan bahwa Trump telah menginjak-injak hukum internasional. Ia bahkan mengancam Trump akan mengambil langkah tegas memobilisasi kaum muslimin dunia untuk mengambil sikap mengenai keputusan ini. Warga Turki diberitakan juga ikut ambil bagian dalam demonstrasi besar-besaran yang dilakukan di Istanbul dan Ankara.

Sebagian besar negara di Eropa Barat juga gusar dengan keputusan Trump dan tak sedikit yang mengecam. Hanya saja sejauh ini belum ada upaya tegas dari Uni Eropa.

Presiden Jokowi melalui akun Twitter-nya juga menolak keputusan sepihak Trump. “Pengakuan itu melanggar resolusi DK dan Majelis Umum PBB. Saya dan rakyat Indonesia tetap konsisten bersama rakyat Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaan dan hak-haknya,” kicau Jokowi (7/12).

Di Palestina sendiri, protes muncul dalam berbagai aksi. Sejumlah warga menampakkan ketidaksetujuan dengan membakar bendera Israel dan AS dan juga poster Trump dan Netanyahu, PM Israel. Umat Kristen Palestina bahkan mematikan lampu natal sebagai wujud penolakan atas keputusan kontroversial itu. Patriarch Theoplhilos III, pemimpin gereja Ortodoks di Yerusalem dikabarkan melayangkan surat kecaman dan mengatakan kebijakan Presiden AS Trump telah menyebabkan kerusakan yang sulit diperbaiki. Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, mengatakan tidak akan menghiraukan keputusan itu.

"Yerusalem adalah ibu kota Palestina yang sejarah dan ukurannya menentukan bahwa identitasnya tidak akan berubah oleh keputusan Amerika Serikat," kata Abbas seperti dikutip dari Al Arabiya. (berbagai sumber)

Apa Reaksi Dunia Internasional Terhadap Pemindahan Ibukota Israel?

SekolahMurabbi.com - Saat pertama sekali memilih program ASEAN Student Visit India (ASVI), Taj Mahal merupakan salah satu daya tarik saya dalam memilih India sebagai negara tujuan. Pada dasarnya, Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) untuk tahun 2016 memiliki lima kuota untuk lima negara yang berbeda  yaitu Australia, Malaysia, China, ASEAN-Jepang, dan India, yang merupakan pilihan akhir saya. Taj Mahal memang memiliki pesona yang membuat orang-orang ingin mengunjungi India. Selain bollywood, icon India yang satu ini memang menyimpan cerita dan kemegahan yang menjadikannya terus menjadi keajaiban dunia.
Setelah melalui proses yang sangat ketat, alhamdulillah saya pun terpilih menjadi perwakilan Aceh untuk menjadi delegasi Indonesia dalam program ASVI. Saat itu hal yang paling menyenangkan adalah membayangkan bagaimana akhirnya saya bisa mengunjungi Taj Mahal, dan melihat langsung salah satu dari keajaiban dunia ini. Ternyata tidak hanya itu, saat tersebar bahwa saya akan ke India, keluarga, teman, dan kenalan pun mulai banyak bertanya tentang India. Pertanyaan itu pun akhirnya menjadi pertanyaan penting dan sering saya dapatkan, apakah Taj Mahal itu Mesjid? Dan sama seperti mereka, saya juga merasakan rasa penasaran yang sama.
Alhamdulillah, perjalanan program ASVI memberikan jawaban atas pertanyaan saya Saat pertama sekali hadir di depan gerbang Taj Mahal, saya pun terkesima dengan ayat Alqur’an yang menjadi ukiran selamat datang bagi seluruh pengunjung tempat ini. Darwaza, begitulah nama gerbang utama dari Taj mahal yang berwarna merah khas ini bertuliskan surat Al-Fajr. Saat itu saya mulai meyakinkan diri sendiri bahwa sepertinya Taj Mahal itu memanglah sebuah mesjid. Dan saat melewati gerbang utama, pekarangan Taj Mahal pun mulai menyuguhkan pesonanya. Rerumputan hijau yang sangat menyejukkan mata, kolam air jernih hingga pepohonan indah yang berjejer seimbang, Tempat ini benar-benar telah merenggut ketertarikan pengunjungnya. Untuk sepersekian menit saya hanya diam dan memandang bangunan megah ini saja, hingga akhirnya salah satu pernyataan dari tour guide kami, menjawab segala pertanyaan tersebut.  “Taj Mahal adalah simbol rasa cinta raja Shahjahan kepada istri ketiganya yaitu ratu Mumtaz Mahal, yang kemudian dikenal sebagai Taj mahal. Di dalam bangunan ini sendiri terdapat makam yang berdampingan antara ratu Mumtaz mahal dan raja Shahjahan .” Kalimat itu terdengar sangat jelas dan benar-benar memberikan pencerahan bahwa sejatinya Taj Mahal bukanlah sebuah mesjid.
Tampak depan dari gerbang Darwaza

Gerbang Darwaza dengan kaligrafi surah Al-Fajr

Taj mahal memang bukanlah sebuah mesjid, ia adalah bangunan persempahan rasa cinta sang raja kepada ratunya Mumtaz mahal yang meninggal saat melahirkan anaknya yang ke empat belas. Sang raja sangat mencintai ratu Mumtaz, hingga setelah kehilangannya, raja pun membangun simbol rasa cinta ini kepadanya. Namun, walaupun Taj Mahal bukanlah mesjid, disisi kiri taj mahal terdapat sebuah mesjid. Dan mesjid ini masih aktif digunakan hingga saat ini. Hal inilah kemudian yang menjadi alasan kenapa tempat ini ditutup pada hari jum’at, karna pada hari jum’at, umat muslim disekitar Taj Mahal melakukan ibadah shalat jum’at. Tidak hanya itu, selama kami di India, kawasan taj mahal merupakan salah satu tempat dimana saya bisa melepaskan kerinduan terhadap suara Adzan. Hal ini tidak mengherankan, mengingat berdasarkan sejarah, taj mahal dibangun masa pemerintahan Mughal dengan rajanya yang beragama Islam. Sejarah ini juga menjadi karakteristik bangunan itu sendiri, dimana selain memiliki gerbang dengan kaligrafi surat Al-Fajr, keempat sisi utama dari pintu taj mahal juga dihiasi dengan surat Yasin lengkap. Pada pintu-pintu kecilnya, terdapat beberapa surat Al-Qur’an yang mengandung makna tentang kejadian dan kehidupan di akhirat.
Mesjid Taj Mahal demgan pemandangan indah sungai Yamuna
Taj Mahal tampak samping
Moment di depan Taj Mahal
Sebagai seorang muslim, mengetahui bahwa kuatnya pengaruh Islam dalam setiap sudut dari Taj Mahal adalah sebuah kebahagian tersendiri, sehingga akhirnya saya bisa bercerita kepada teman-teman bahwa Taj Mahal memang bukanlah sebuah mesjid, tapi Taj Mahal menampilkan atmosphere keislaman di dalamnya. Wallahu’alam









By.

Taj Mahal, Apakah Sebuah Mesjid?


SekolahMurabbi.com - Ada rasa rindu yang menyelusup ke dalam hati setiap kali memasuki bulan terakhir penanggalan Hijriah. Di bulan ini, jutaan umat muslim berbondong-bondong memenuhi panggilan Allah ‘azza wa jalla. Labbaikallahumma labbaik, kalimat ini bergemuruh di udara dan menggaung dalam rongga-rongga dada.


Seperti makna talbiyah, haji sejatinya adalah panggilan Allah. Kita hanya memenuhi panggilan. Jika Allah tak memanggil, maka orang kaya yang sehat pun akan terhalang dari menunaikan haji. Sebaliknya, jika Allah sudah memanggil hamba-Nya, kisah demi kisah penuh ketakjuban—dan seringkali di luar nalar logika—akan terus hadir dalam sejarah mengiringi gegap gempitanya pelaksanaan ibadah haji.

Suatu kali, sebuah kanal berita Turki berencana meliput reportase di Ghana. Mereka menggunakan sebuah drone untuk memperoleh video. Tiba-tiba pesawat nirawak itu jatuh di depan rumah seorang laki-laki tua. Dari gambar yang beredar viral di internet, terlihat rumah yang sangat sederhana.

Jurnalis Turki segera menuju ke tempat drone jatuh. Di sana, ia menemui si lelaki tua memegang drone dan dengan wajah polos mengajukan pertanyaan: “Tidak cukup besarkah pesawat ini menerbangkanku ke Makkah untuk menunaikan haji?”

Si jurnalis terdiam. Mungkin ada rasa haru yang menyelinap ke dalam dadanya. Ada lelaki tua yang hidup sangat sederhana tapi memiliki cita-cita yang menyala: berhaji untuk menyempurnakan rukun Islam. Ia kemudian mengunggah foto dan cerita ini ke media sosialnya, sebuah pengalaman berharga yang mengetuk nurani.

Tak butuh waktu lama untuk menjadikan cerita ini viral di dunia maya. Yang dilakukan pemerintah Turki kemudian lebih menakjubkan lagi. Laki-laki tua ini dihubungi dan diberitahu bahwa mereka akan membiayai keberangkatannya ke Makkah untuk menunaikan haji.

Lihatlah bagaimana Allah memanggil lelaki ini, seorang yang secara finansial tak mampu berangkat ke Makkah. Ini sama sekali bukan kehendak lelaki itu. Ia memang punya keinginan untuk berhaji sebagaimana seluruh muslim lainnya. Tapi membayangkan sebuah drone bisa mengantarkannya ke Makkah sungguh tak pernah terpikirkan.

Ini adalah panggilan Allah. Jika ia sudah berkehendak, lelaki miskin nan lemah sekalipun dimudahkan mendatangi-Nya, menjadi tamu mulia di Masjidil Haram. Maka wajar setiap muslim yang mengenakan pakaian ihram melafalkan talbiyah: Labbaikallahumma labbaik, kami datang memenuhi panggilan Engkau, ya Allah. Datang memenuhi panggilan, bukan datang atas kemauan dan kemampuan sendiri.

Semoga yang belum berhaji kelak dimampukan untuk memenuhi panggilan Allah ke tanah suci Makkah. Amin.
By.

Ketika Allah Memanggil, Drone Pun Menerbangkan Lelaki Ini ke Makkah

Monumen gua Ashabul Kahfi
SekolahMurabbi.com - Ada dua perjalanan penting hamba-hamba pilihan yang dikisahkan secara berurutan oleh Allah swt. dalam surat Al-Kahfi. Perjalanan pertama adalah perjalanan Nabi Musa as. bersama muridnya, Yusya’ bin Nun, mencari ilmu. Perjalanan kedua adalah perjalanan sang raja Dzulqarnain, seorang raja yang Allah telah memberi kekuasaan kepadanya dan dimudahkan baginya jalan untuk mencapai segala sesuatu yang diinginkannya (Al-Kahfi: 84). Perjalanan kedua ini bisa disebut perjalanan mengaplikasikan ilmu atau perjalanan amal sebab sang raja melakukan banyak perbuatan kebaikan sesuai ilmu yang dimilikinya.


Dua kisah ini terasa tidak asing di telinga sebab hampir setiap Jumat kita selalu membacanya. Lalu apa ibrah yang bisa kita ambil dari pengisahan kehidupan dua manusia hebat ini?

Ilmu Dulu Sebelum Amal
Allah mengisahkan kisah Nabi Musa as. terlebih dahulu sebelum Dzulqarnain. Ini seolah-olah memberitahu kita untuk memiliki ilmu terlebih dahulu sebelum beramal.

Ilmu Tidak Mengenal Batasan Apapun
Perjalanan mencari ilmu dalam surat Al-Kahfi diperankan oleh Musa as. yang seorang Nabi. Artinya, seorang nabi sekalipun masih dibebankan oleh Allah swt. untuk menuntut ilmu. Apalagi kita.

Kapan Beramal?
Kisah Dzulqarnain yang mengaplikasikan ilmu diceritakan oleh Allah swt. persis setelah Nabi Khidir  mengajari Nabi Musa ‘alaihumassalam. Tanpa diselingi topik apapun. Ini seperti isyarat bahwa ilmu yang sudah dituntut langsung diterapkan. Jadi tidak tepat bila ada yang berpendapat harus jadi ulama dulu baru boleh berdakwah. Dan sebagainya.

Tantangan Berilmu dan Beramal
Dalam kisah Nabi Musa as., sang nabi tidak berhasil sabar sehingga hanya mendapatkan tiga ilmu saja dari Nabi Khidir as. Adapun Dzulqarnain diuji dengan upah (keuntungan duniawi) atas ilmu/keahlian yang dimilikinya.
Jelaslah bagi kita bahwa ilmu menuntut kesabaran dan amal memerlukan niat yang ikhlas dan mantap agar tak tergiur dengan silaunya harta dunia.

Sandaran Ilmu dan Amal
Bila kita membaca hadits yang panjang tentang mengapa Allah swt. memerintahkan Nabi Musa as. untuk menuntut ilmu, maka jelaslah itu sebagai teguran karena sang nabi tidak menisbatkan ilmu yang dimilikinya kepada Allah. Selanjutnya, Dzulqarnain dengan gamblang menisbatkan apa yang dimilikinya kepada Allah (ayat 95 dab 98).

Demikian beberapa ibrah yang bisa kita petik dari surat Al-Kahfi. Semoga Allah menguatkan kita menuntut ilmu dan beramal. Amin.
By.

Pesan Tersirat Al-Kahfi Yang Jarang Kita Sadari


SekolahMurabbi.comApakah kamu pernah dimarahi karena memiliki "kebiasaan buruk"? Pernahkah orangtuamu memarahimu karena  kamar yang kotor? Pernahkah teman atau orang asing menatapmu aneh karena berbicara sendiri? Atau mungkin kamu sibuk melakukan bermacam hal hingga larut malam, dan bahkan hanya asyik bergulat dengan pikiranmu sendiri hingga tidak menyadari bahwa waktu telah menunjukkan pukul 02.00 dini hari.

Kalau kamu menjawab ya, maka kamu harus tau hal ini! Empat hal yang mungkin biasa kamu lakukan yang sebenarnya tidak seburuk tampaknya. Penelitian telah menunjukkan bahwa kebiasaan dan/atau sifat di bawah ini benar-benar dapat menjadi pertanda bahwa kamu sebenarnya adalah orang yang cerdas.

1. Orang Cerdas Cenderung Berantakan


Dalam sebuah studi oleh Kathleen Vohs, seorang ilmuwan psikologi, ditemukan bahwa meja berantakan merepresentasikan pemikiran kreatif dan merangsang ide-ide baru.

"Kita semua terkena berbagai macam pengaturan, seperti di ruang kantor kita, rumah kita, mobil kita, bahkan di Internet," Vohs mengamati. "Apakah kamu memiliki kontrol atas kerapian lingkungan atau tidak. Dan penelitian kami menunjukkan hal itu dapat mempengaruhi Anda."

Jadi, jika kamarmu berantakan, jangan malu. Hal ini menunjukkan bahwa kreativitasmu mengalir dengan baik. Lingkungan yang berantakan sebenarnya membantu kamu untuk memecahkan norma dan melesat dengan ide-ide baru!

2. Orang Cerdas Cenderung Berbicara pada Diri Sendiri


Panggil saja mereka gila, tapi orang-orang yang sering berbicara sendiri mungkin saja memiliki “sesuatu” dalam dirinya. Coba pikirkan: kamu memiliki sebuah ide atau rencana yang cemerlang dan butuh untuk merangkainya dengan berbicara. Kamu tau kamu perlu mengeluarkan idemu dengan berbicara, dan kamu tetap saja berbicara sendiri meski tanpa lawan bicara dengan suara keras. Lantas tiba-tiba, kamu menyadari bahwa beberapa orang menatapmu aneh. Apa yang sedang mereka lihat? Kamu hanya mencoba untuk merangkai ide cemerlangmu!

Ilmu pengetahuan mengatakan bahwa orang yang berbicara sendiri tidak gila - mereka sebenarnya lebih cerdas! Aktivitas ini sangat membantu mereka untuk menentukan masalah mereka lebih jelas dan menemukan solusi yang lebih baik serta lebih cepat daripada orang lain yang hanya diam saat memecahkan masalah.

3.  Orang Cerdas Cenderung Mengumpat Lebih Banyak


Apa sih yang dimaksud dengan kata umpatan? Kata umpatan, bisa diartikan sebagai sekelompok huruf dibentuk bersama-sama untuk membuat penghinaan kasar atau hanya sekedar kata-kata yang kamu seringkali tidak sadar saat mengeluarkannya.

Dalam studi ini, menunjukkan bahwa mereka yang lebih sering mengumpat memiliki IQ yang lebih tinggi dan memiliki kosakata kata umpatan yang banyak adalah tanda kekuatan retoris.

4. Orang Cerdas Cenderung Terjaga Lebih Larut


Bila kamu memiliki banyak masalah dan tidak mampu menyelesaikannya sesaat sebelum waktunya tidur, maka kamu hanya akan dapat membolak – balik badanmu sembari mencoba untuk tidur. Tapi tidak perlu khawatir! Tetap terjaga lebih larut ketimbang orang lain telah terbukti meningkatkan IQ . Rupanya, itu memberikanmu waktu yang lebih panjang untuk memikirkan masalah dan berpeluang besar untuk menemukan solusi yang lebih baik.

Kembali ke jaman di mana manusia belum menemukan api, sumber cahaya mereka hanyalah matahari. Hal ini memaksa mereka untuk tidur di awal malam guna menghindari predator. Namun, sekarang kita memiliki pencahayaan buatan sepanjang siang dan malam, yang memberi kita kemudahan untuk memanfaatkan jam malam.

Jadi jika kamu mengumpat sesekali pada diri sendiri, tetap terjaga lebih lama dari teman-teman dan keluarga di malam hari hingga larut, atau berantakan dan berbicara dengan diri sendiri ketika berada di depan umum, bukanlah suatu masalah yang besar. Ilmu berada di pundakmu dan penelitian telah membuktikan bahwa kamu lebih kreatif, memiliki IQ yang lebih tinggi, dan dapat bekerja melewati masalah lebih cepat dari rata-rata orang. 

Dikutip dari www.lifehack.org

Menurut Sains, Orang Cerdas Umumnya Miliki 4 Pembawaan Ini

Salah satu adegan dalam film "The Titanic" yang berkisah tentang tenggelamnya kapal pesiar termewah di abad 20. (Sumber gambar: waktudahulu.blogspot.com)

SekolahMurabbi.com - Sombong hanyalah awal cerita kaum Sodom yang menolak ketika diingatkan Luth sang Nabi. “Berhentilah mengingatkan kami, kalian itu hanya orang-orang yang sok suci.”

Sombong hanyalah awal cerita Fir’aun yang dengan nada mengejek meminta Haman membangun gedung tinggi. “Agar aku dapat naik menemui Tuhan Musa, sebab kuyakin ia kali ini benar-benar berdusta.”

Sombong juga hanya awal cerita Titanic di permulaan abad 20, kapal laut besar mahakarya White Star Line yang memiliki julukan nan angkuh, “The Unsinkable”.

Kesudahan ketiga cerita menjadi pengingat bagi kita bahwa tak ada siapapun makhluk melata yang perkasa.

Sodom, misalnya. Ketika kemaksiatan menjadi mayoritas dan hanya tersisa Nabi Luth as. dan anak-anaknya saja, ingatlah kebenaran senantiasa bukan urusan jumlah.

Pendaku Tuhan dari lembah Nil, sang Fir’aun yang ‘agung’, sungguh tak perlu membangun gedung melambung untuk menemui Tuhan Musa. Sebab tenggelam di Laut Merah sudah cukup untuk mengirimnya ke neraka. Jabatan tinggi dan balatentara yang banyak tak ada apa-apanya jika digunakan untuk menentang kebenaran.

Titanic! Nasibnya sama sekali berbeda dengan Olympic, kembarannya yang diluncurkan lebih dulu. Sumber sejarah menyebut Titanic adalah kapal pesiar paling mewah. Dengan dimensi 269 x 28 meter, kapal uap ini mampu menampung 3.000 orang lebih dengan fasilitas yang wah. Kemegahan menakjubkan, sampai-sampai memunculkan istilah, “Tuhanpun tak akan sanggup menenggelamkannya.” Berlayarlah ia untuk pertama sekaligus terakhir kalinya.

Akhir-akhir ini, betapa kita melihat banyak sejarah terulang terjadinya di dekat kita. Di dunia maya—dunia bentukan teknologi manusia—ada pasukan yang kelihatannya begitu besar menggaungkan berbagai isu untuk mendukung kebijakan tokohnya. Sekalipun kebijakan itu sama sekali tak berpihak pada rakyat kecil. Isu-isu mereka gerakkan dengan aktif seakan suara dari rakyat jelata—rakyat yang mungkin tidak pernah tahu ada yang namanya dunia maya.

Mereka sepakat menyetujui proyek reklamasi yang katanya menguntungkan rakyat tak peduli ada berapa banyak rakyat pesisir yang menjadi pengangguran. Mereka setuju dengan isu relokasi yang katanya memodernkan rakyat tak peduli berapa banyak rakyat yang semakin jauh dari mata pencaharian. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Betapa pula dengan sombongnya mereka baru-baru ini menantang Sang Pemilik Alam. “Hujan sudah berhari-hari, kok kota ini tidak banjir-banjir ya?” Seolah ketiadaan banjir adalah bukti keberhasilan tokoh junjungan. Mereka angkuh. Mereka sombong. Mereka lupa tak punya daya untuk mengatur kekuatan alam.

Mereka lupa kaum Sodom kalah melawan Nuh seorang sebab Nuh berkebenaran. Mereka lupa—atau pura-pura lupa—bahwa balatentara Fir’aun tak berdaya menghadapi serdadu Pemilik Kebenaran. Mereka lupa Titanic tamat riwayat hanya karena bongkahan es di lautan.

Sombong hanyalah awal cerita. Binasa adalah kesudahan. (yf)
By.

Sombong Hanyalah Awal Cerita

Peserta aksi GEMAR memagi-bagikan kaos kaki kepada masyarakat di pantai Ulee Lheu (16/2).

SekolahMurabbi.com - Dalam rangka memperingati hari Gerakan Menutup Aurat (GEMAR) 14 Februari, mahasiswa-mahasiswi yang tergabung dalam Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK Aceh), LDK FOSMA Unsyiah dan LDF se-Unsyiah menyelenggarakan aksi yang bertujuan untuk mengingatkan dan mengajak masyarakat untuk dapat menutup aurat secara syar’i.


Kegiatan yang mengusung tema Aceh Menutup Aurat ini berlangsung di seputaran pantai Ulee Lheu, Banda Aceh pada hari Kamis, 16 Februari 2017. Bentuk kegiatan yang dilaksanakan yaitu longmarch (pawai) dan freeze mob (mematung di tengah keramaian). Hal ini untuk mengkampanyekan dan mengajak seluruh masyarakat, khususnya pengunjung pantai Ulee Lheu, untuk menutup aurat secara syar’i. Para peserta aksi juga tampak membagikan ratusan pasang kaos kaki dan ratusan brosur syi’ar dakwah kepada para pengunjung pantai Ulee Lheu. Sebelum longmarch, para peserta juga melaksanakan NGAOS (Ngaji On the Street) di jembatan dekat Masjid Baiturrahim Ulee Lheu.

Lebih dari 50 orang ikut serta dalam aksi ini. Ini merupakan partisipasi mereka untuk ikut berdakwah kepada masyarakat. Aksi ini merupakan puncak acara Gerakan Menutup Aurat wilayah aceh yang diselenggarakan semenjak tanggal 9 Februari 2017 melalui kampanye/syi’ar lewat media-media sosial dan aksi menulis opini bersama seluruh LDK se-Aceh.

“Menurut saya, kegiatan yang diselenggarakan oleh FSLDK Aceh dan LDK se-Unsyiah ini sangat positif. Apalagi kami semua terjun langsung kepada masyarakat untuk membantu mengingatkan dan membantu menyempurnakan menutup aurat di kaki, dengan membagikan kaos kaki. Kegiatan ini sebenarnya diselenggarakan di seluruh Indonesia setiap tahunnya. Harapan kami agar masyarakat Aceh, khususnya muslimah, yang hampir semuanya sudah memakai jilbab, dapat menyempurnakannya dengan memakai kaos kaki. Karena kaki juga merupakan aurat perempuan. Dan kami berharap, kegiatan seperti ini bisa diselenggarakan lagi ke depan setiap tahunnya, ungkap Roma Itona selaku koordinator aksi.

Kegiatan ini mendapat perhatian yang besar dari pengunjung pantai Ulee Lheu. Banyak pengendara yang berhenti untuk melihat freeze mob, dan terlihat banyak pengunjung yang mengambil gambar saat aksi berlangsung. (it)





By.

FSLDK Aceh Peringati Gerakan Menutup Aurat 2017


SekolahMurabbi.com - Judul di atas terkesan vulgar. Tapi percayalah, beberapa orang kerap melontarkan kata ‘gatal’ kepada mereka yang memutuskan untuk segera menikah di usia muda. Seolah-olah tak sanggup menjaga nafsu. Seolah-olah tiada lagi benteng iman di dalam dada mereka.


Tidak benar seseorang dikatakan pemuda tangguh bila dalam waktu yang sangat lama ia sanggup hidup sendiri. Itu bukan prestasi. Dan tak layak dinikmati. Allah tak sedang bercanda dengan firmannya, ‘Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu... (24:32)’. Rasul pun tak sedang asal ajak para pemuda untuk segera menikah. Terkait hal ini, hadits yang berhubungan dengan anjuran menikah dan larangan membujang tidak sedikit jumlahnya.

Tak pantas siapapun melontarkan kata gatal untuk mereka yang berusaha untuk menikah diusia muda. Tidak pantas! Meski dengan bahasa yang lebih halus. Tak jarang bahkan sumbunya adalah dari orang-orang yang telah berhasil melewati masa muda yang getir. Alih-alih merespon positif saat mendengar ada yang berucap ingin menikah, kita malah mematahkan semangat dan membiarkan para pemuda hidup hampa dalam waktu lama. Hati-hati dengan komentar!

Ya, kita memang harus realistis mengatakan bahwa berumah tangga tidaklah semudah dan senikmat yang dibayangkan. Tetapi, tidak menjadi elok juga bila pada akhirnya terjadi akumulasi kengerian bertengger di benak seseorang hingga membuatnya menunda apalagi berhenti melangkah. Penyebabnya, komentar-komentar yang tak sedap, ‘Ngapain cepat-cepat nikah. Gatal kali kamu. Kalau ngerti agama harusnya bisa tahan nafsu. Puasa. Kamu pikir kehidupan berumah tangga gampang, susah tau! Belum lagi ngurus ini ngurus itu bla bla bla...’

Lihatlah bagaimana rasul utarakan motivasi menikah kepada segenap pemuda dalam tutur kalimat yang bijak, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud, ia berkata, “Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai kelompok pemuda yang tidak mempunyai apa-apa.” Beliau bersabda, , “Wahai para pemuda, barangsiapa sudah memiliki kemampuan, maka hendaknya ia menikah, karena menikah dapat meredam keliaran pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, hendaknya ia berpuasa, sebab puasa adalah sebaik-baik benteng diri.” (HR. Bukhari-Muslim) Bandingkan dengan komentar sebelumnya. Pilihlah kata-kata.

Para sahabat Nabi saat kali pertama mereka mendengar perkataan Rasulullah langsung berupaya memenuhinya. Tersebutlah sahabat Abdullah bin Amru bin Ash, Abu Usaid As-Sa’di, Jabir bin Abdillah bin Amru bin Haram, Usahamah bin Zaid, Umar bin Abi Salamah, Abdullah bin Abi Hadrad. Para pemuda tersebut segera menunaikan wasiat Rasulullah, betapapun kondisi sulit yang tengah mereka hadapi. Kitab-kita sirah menceritakan untuk kita contoh-contoh pernikahan dini mereka.

Karena dunia sudah dipenuhi keliaran yang menginjak-injak norma dan etika. Dimana orang baik-baik bahkan terseret dan tak bisa terbebas dari perilaku zina. Sulit sekali rasanya. Maka, kepada mereka yang berusaha meredam gejolak syahwatnya lewat jalan menikah dengan segera. Ucapkanlah selamat! Jangan bibir menjadi gatal berbicara entah apa-apa.

'Gatal' Menikah

Sumber gambar: suaramerdeka.com
SekolahMurabbi.com - Sulit sekali memikirkan solusi ketika kau terjebak antara lautan luas tak berkapal di hadapan dengan kejaran musuh beraroma kematian dari belakang. Bani Israil, kala itu dipimpin oleh Nabi Musa as, mungkin mengira perjuangan mereka akan berakhir di pantai laut Merah. Perkiraan yang sangat masuk akal itu terbantahkan setelah Allah perintahkan sang Nabi untuk membelah laut dengan pukulan tongkatnya. Kemudian hanya ada keajaiban yang tidak masuk akal. Air tidak hanya menyelamatkan Bani Israil dari kisah tragis tapi juga mencabut nyawa Firaun dan bala tentaranya yang sadis bengis.

Ketika sepasukan besar pimpinan Abrahah menyerbu Makkah, Abdul Muthalib yang menjaga Ka’bah hanya bisa pasrah. Wajar kalau ia berpikir bangunan bersejarah itu sebentar lagi akan rata dengan tanah. Lalu Allah mengirim burung-burung yang membawa batu dari sijjil.

Dalam musim dingin yang amat sangat, musuh bersiaga di depan menanti-nanti kelengahan penjagaan sementara kau diliput rasa takut dan lapar karena sekutu perangmu berkhianat; apa yang bisa kaulakukan? Para sahabat Rasulullah di masa perang Khandaq tak bisa berbuat banyak. Beberapa mulai tumbang berguguran karena kelaparan. Siapa yang menjadi juru selamat? Pasti Allah Yang Maha Perkasa. Badai dingin tiba-tiba saja bertiup memporakporandakan kemah-kemah Quraisy dan Ghatafan. Kaum yang ingkar itu luluh lantak.

Ketika usaha sudah maksimal dan kemudian hanya ada jalan buntu kautemui di sana, serahkan saja semuanya pada Allah. Ketika tawakkalmu benar, Allah akan mengirimkan bala bantuan yang tak terlihat, tentara yang tak disangka-sangka.

Hari-hari ini, kita ditunjukkan pada sebuah pemahaman bahwa siapapun yang menguasai media, ia telah memiliki segalanya. Lalu dengan segala kecongkakannya, ia seolah bebas melakukan apa saja. Menghina, menghardik, mencaci siapapun yang berseberangan.

Di hadapan kekuatan raksasa yang dimilikinya itu, kita kemudian merasa kecil sekali. Upaya kita meluruskan berita yang disimpangsiurkan, hoax-hoax yang bertebaran, hasil survei bayaran dan fitnah-pelecehan-caci-maki yang gencar seperti mencelupkan setetes air di lautan. Rakyat yang sudah terbiasa serba instan cenderung mengasup informasi dari media-media kelas satu yang dulunya kredibel.

Berhentikah kita?

Melihat Musa yang baru berhenti ketika sudah tak bisa lagi meneruskan perjalanan, Abdul Muthalib yang baru pasrah setelah upayanya sia-sia, para sahabat Rasulullah yang terus bersiaga sampai ajal tiba; rasanya perjuangan kita belum seberapa. Sebelum seluruh akses diblokir, tangan kaki dibelenggu, mulut-mulut dibekap, dan tubuh-tubuh dipenjara; kita masih punya kewajiban untuk berjuang.
By.

The Unpredictable Armies


SekolahMurabbi.com - “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan debatilah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl : 125)
 
Salah satu cara mengajak orang kepada kebaikan adalah dengan perdebatan. Sayyid Quthb dalam tafsirnya, Fi Zhilalil Quran, menjelaskan bahwa cara yang baik dalam berdebat adalah tidak menzalimi, meremehkan dan mencela orang dan pendapat yang berseberangan. Sebab hakikatnya, mendebat bukan untuk membenarkan diri dan mengalahkan orang lain tapi untuk menyampaikan kebenaran yang hakiki.

Ahmad Deedat dan muridnya, Zakir Naik, mungkin adalah dua dari sekian banyak penyeru kebaikan yang memilih jalan ini. Keduanya, kita tahu, berhasil memperkenalkan Islam kepada jutaan orang hingga tak sedikit yang hadir di seminar mereka memutuskan untuk menjadi muslim. Mengapa Ahmad Deedat dan Zakir Naik begitu sukses di dakwah jidal? Jawabannya adalah allati hiya ahsan, menggunakan cara atau metode yang baik.

Dalam video Dr. Zakir Naik yang disebar viral di YouTube, kita tak menemukan sekalipun ia marah terhadap berbagai argumen kacau yang ditujukan nonmuslim tentang Islam. Malah, Naik lebih sering tersenyum dan memuji pertanyaan audiennya. Naik pernah mengakui ketertarikannya berdiskusi dengan seorang atheis. “Sebab kalian paling mirip dengan Islam dibanding agama lain. Kalian mengakui tidak ada tuhan. Jika bersedia menambahkan ‘selain Allah’, maka kalian sudah menjadi orang Islam,” katanya disambut gemuruh tawa tangan hadirin.

Itulah ahsan. Sekalipun ada di pihak yang benar, kita tak perlu mencak-mencak. Kebenaran akan lebih menawan apabila diikuti oleh sikap ramah dan lemah-lembut.

Tapi cukupkah itu? Dari Zakir Naik kita belajar setidaknya ahsan itu adalah ramah sikapnya, santun bahasanya, jelas kalimatnya, terang analoginya, dan kuat argumennya.

Lalu apa hubungannya dengan kalimat di awal tulisan? Ini yang hendak saya sampaikan.

Nasihat adalah ekspresi cinta seorang muslim terhadap muslim lainnya. Sebab sejatinya, menasihati berarti peduli sedangkan peduli adalah tanda cinta. Dalam prakteknya, ada kaidah yang harus diperhatikan agar nasihat sebagai wujud cinta tak diterima dengan penuh benci; agar nasihat yang disampaikan dari hati akan sampai ke hati juga.

Saudaraku, jika berdebat saja Allah perintahkan untuk menggunakan cara-cara yang baik, mengapa kita tak menggunakan cara-cara yang lebih baik ketika bernasihat? Janganlah maksud mulia menasehati malah melukai karena disampaikan dengan cara-cara yang menyakitkan.

Apa saja cara yang tidak baik itu? Di antaranya adalah merasa benar, tidak berhati-hati memilih kata dan menasehati di tengah keramaian.
 
Sikap merasa benar tidak pernah melahirkan nasihat yang tulus. Ia hanyalah wajah lain dari penyakit suka menghakimi. Penasihat yang tidak berhati-hati memilih kata mungkin saja memiliki niat yang tulus tapi yang dinasihati akan mudah tersinggung. Akibatnya, nasihat diberikan tapi tak pernah diterima.
Sedang mengenai keramaian, Imam Syafi’i pernah berpesan, “Nasihati aku di kala sendiri sebab nasihat di keramaian seperti hinaan yang melukai hati.”

Harap dicatat, keramaian di zaman ini tidak mesti sekumpulan orang yang duduk di satu tempat dalam satu waktu. Di media sosial, keramaian bisa berupa grup obrolan, beranda Facebook, kolom komentar dan berbagai fitur yang memungkinkan banyak orang yang tak berkepentingan bisa mengaksesnya.

Kita tutup tulisan ini dengan sebuah kisah indah. Suatu malam, Imam Ahmad ibn Hanbal mengetuk pintu rumah salah satu muridnya, Harun ibn ‘Abdillah Al-Baghdadi. Begitu masuk, Imam Ahmad berjalan menjinjit hingga tak terdengar langkah kakinya. Harun terheran-heran mengapa gurunya mendatanginya tengah malam.

“Ada urusan penting apa sehingga tuan guru berkenan mengunjungiku tengah malam ini?” tanyanya penasaran.

Imam Ahmad tersenyum lalu menjawab, “Maafkan aku duhai Harun. Aku tahu kebiasaanmu tengah malam terjaga untuk menghafal hadits, karenanya aku mendatangimu.” Suara beliau pelan sekali seakan tak ingin didengar oleh selain Harun.

“Ada yang mengganjal ketika aku melihat majelismu tadi siang. Saat kau menerangkan hadits kepada murid-muridmu, mereka duduk di bawah terik sementara engkau bernaung di bawah pohon. Lain kali, jangan begitu. Duduklah sebagaimana muridmu duduk.”

Setelah memberi nasihat itu, Imam Ahmad pamit pulang dengan tetap berjingkat. Masya Allah, seorang guru yang ingin menasihati muridnya memilih waktu tengah malam agar tak seorangpun tahu. Betapa indahnya menasihati seperti ini.

Semoga Allah memperbagus akhlak kita. Semoga Allah senantiasa menghidayahi kita untuk saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran agar tak tergolong ke dalam orang-orang yang merugi.(yf)
By.

Menasi-hati

Sekolahmurabbi.com

Sekolahmurabbi.com adalah Media Informasi Keislaman yang dikelola oleh anak-anak muda.
Sekolahmurabbi.com menyajikan artikel dan informasi dasar-dasar keislaman yang dibutuhkan bagi para murabbi dan mutarabbi.

© | About Us | Kirim Tulisan | The Team | Contact Us | Privacy Policy | Disclaimer
Design by Hasugi.com